Minggu, 04 November 2018

Review Rumah Kremasi - Ayu Welirang





Haiii Bookreaders🙌
Kali ini aku bawa kumpulan cerpen nih. Ada yang suka dengan cerpen?

Kumcer yang aku bawa ini dengan judul Rumah Kremasi. Dan baru saja terbit bulan Oktober lalu. Penampakannya covernya cantik yah.

Nah, daripada lama yuk kita intip reviewnya👇


Identitas Buku : 

Judul    : Rumah Kremasi 
Penulis  : Ayu Welirang
Penerbit : Manenobooks
Tebal   : v + 122 halaman
Terbit : Cetakan Pertama, Oktober 2018


Blurb :

Manusia laci menjelaskan bahwa semua orang melempar kabar dengan menulis di pikiran mereka masing-masing. Mereka yang barbar dan berdarah dingin akan berlomba-lomba menulis dan membaca pikiran orang-orang yang tersebar di seluruh penjuru gelombang pada udara. Mereka melakukannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pribadi agar merasa ada.
----- Tezcatlipoca

Sementara api? Dia menjalar, mengelilingi kita, tapi membiarkan orang menyaksikan saat-saat terakhir di tengah kobaran zatnya. Kusen langit-langit rumah berjatuhan, pintu kayu rusak, gorden terbakar, sofa dan karpet seperti daun meranggas, dan semua yang ada di hadapanmu bermetamorfosis. Namun, api tetap tenang di sekitar, tak menyentuhmu hingga kau tak bisa lagi menikmati apa-apa. Tahu-tahu, kau sudah mati.
----- Rumah Kremasi

***

Kumpulan cerita yang berisi sepilihan cerita pendek karya Ayu Welirang sejak 2012 hingga 2018, dikumpulkan dari berbagai media. Bercerita tentang hal tabu, hidup, mati, dan apa yang tidak pernah benar-benar ada dalam isi kepala manusia.

Isi Cerpen :

1. Dongeng Mbah

Bercerita tentang si tokoh "Aku" yang berlibur lebaran ke rumah Mbah Putri-nya di desa yang bernama Ngadirojo. Si tokoh "Aku" dan sepupunya yang berjumlah lima belas orang, malam itu mendengarkan dongeng dari Mbah Putrinya.

Dongeng Mbah Putri pun dimulai. Si tokoh "Aku" dan sepupunya antusias mendengarkan. Dongeng kali ini berhubungan dengan tempo dulu. Kira-kira apakah itu?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Caranya memang salah. Namun, bukankah selalu ada ruang dimana manusia harus dimaafkan?" --- [Hal.11]

Sebagai pembuka, cerpen ini memberikan kesan yang ringan dan membuat penasaran dengan cerpen-cerpen berikutnya. Apalagi jika dilihat dari plotnya, cerpen ini endingnya bikin ajip.

Info tentang cerpen ini : pernah dimuat dalam Antologi Cerpen #1Minggu1Cerita, rilis 17 Juli 2018.

2. Tezcatlipoca

Bercerita tentang si tokoh "Aku" sehabis pulang bekerja dan mendapati seseorang di kamarnya. Dan ketika ditanya orang itu darimana asalnya, orang itu hanya menjawab "Dari dalam laci meja riasmu".

Si tokoh "Aku" pun heran. Namun, sebuah percakapan tercipta diantara keduanya. Yaitu tentang dunia di abad duapuluhdua nanti.

Lalu, siapakah sebenarnya seseorang yang ditemui oleh si tokoh "Aku" ini?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

".... hal yang paling menyenangkan di masa depan nanti, kau tak perlu repot-repot tertidur" ---- [Hal. 22]

Cerpen kedua ini, sudah membuatku penasaran hanya dengan membaca judulnya saja. Dan ketika aku membaca cerpennya dan "booom!!!" aku terpana. Dua jempol deh buat si penulis beserta imajinasinya.

Info tentang cerpen ini : pernah dimuat dalam direktori konten alternatif Jakartabeat.net, rilis 7 Januari 2016.

3. Migdal Bavel

Bercerita tentang si tokoh "Aku" yang berkata bahwa ia membangun sebuah menara bernama Migdal Bavel. Sebuah menara yang tingginya menjulang hingga ke gerbang surga. Si tokoh "Aku" memaparkan bagaimana nasib Migdal Bavel apabila benar-benar mencapai surga. Lalu, seperti apakah sebenarnya menara Migdal Bavel?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Manusia memang memiliki tingkat ketamakan dan kemunafikannya sendiri" ---- [Hal. 32]

Cerpen ketiga ini, aku benar-benar kurang paham dengan apa yang ingin disampaikan penulis. Ini mungkin karena tingkat imajinasiku yang tidak sampai ke titik pemahaman yang ingin disampaikan penulis. Meskipun begitu, aku tetap penasaran dengan cerpen ini.

Info tentang cerpen ini : pernah dimuat dalam Meturuang.com, rilis 20 April 2018.

4. Sembunyi di Tepi Jendela Lantai Dua

Bercerita tentang seorang wanita yang sudah memiliki lelaki, namun lelaki itu memilih yang lain daripada dirinya. Lalu, bagaimanakah nasib wanita itu?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Kalau saja ia bilang sejak awal, ia ragu-ragu memilihku dan masih membutuhkan gadis lain sebagai katalog pilihannya, aku akan menerima. Aku tak akan marah, karena aku rasa ini malah menjadi titik kebebasanku yang sukar memilih hal yang mudah." ---- [Hal.40]

Cerpen keempat ini berbeda dengan tiga cerpen sebelumnya. Ending cerpen ini membuatku haru. Penulis berhasil memainkan emosi si pembaca walaupun hanya lewat beberapa lembar halaman.

5. Jika Masih Ada Kedai yang Buka

Bercerita tentang seorang wanita berkacamata yang sedang menunggu seorang lelakinya, sebut saja "Si Ngaret" di sebuah kedai kopi. Lama menunggu, wanita itu tak sengaja berpapasan dengan seseorang, sebut saja "Si Fulan". Sebuah percakapan tentang kesenangan dan kesepian menjadi bahan obrolan keduanya. Lalu, bagaimanakah akhir percakapan mereka?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Saya pikir, kau tak perlu merasa sepi, sebab banyak hal yang bisa kau munculkan dari dalam pikiranmu sendiri. Namun, jika kau tak bisa memunculkannya, saya lah orang yang akan datang menemani kau dan orang-orang lain yang terlalu senang atau terlalu sepi" ---- [Hal.58]

Cerpen kelima ini, aku enjoy sekali membacanya. Setiap dialog yang dimainkan si wanita dan Si Fulan ini membuatku tertantang untuk mengikutinya sampai percakapan terakhir.

6. Dosa Asali

Bercerita tentang perjalanan bayi yang dijatuhkan oleh unggas-unggas kayangan menuju ke bumi atas titah Tuhan untuk penebusan dosa para leluhur. Mereka, para bayi, dikirimkan ke dinding-dinding rahim ibu, hingga nanti ia berada di dunia. Bagaimanakah sebenarnya seorang bayi bisa menebus dosa?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Para bayi mungkin berpikir, jadi ruh tanpa jasad lebih baik daripada kembali hidup setelah mengalami pencucian dosa asali berulang kali" --- [Hal. 66 - 67]

Cerpen keenam ini, ketika aku membacanya aku merasa sedih dan feelnya dapet. Ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang bayi yang tidak punya pilihan apapun untuk menebus sebuah dosa. Dan mau tidak mau mereka harus menuruti titah dari Tuhannya.

Info untuk cerpen ini : pernah dimuag dalam Metaruang.com, rilis 20 April 2018.

7. Sebab Televisi Berbingkai Bangkai

Bercerita tentang si tokoh "Aku" yang menggambarkan seseorang yang ada di dalam televisi.

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Kesunyianku adalah doa bagimu..." ---- [Hal. 78]

Cerpen ketujuh ini, aku tidak bisa menangkap apa maksud si penulis. Beberapa kali aku baca ulang, aku belum bisa menemukannya. Padahal cerpen ini adalah cerpen yang paling singkat, dengan hanya memakan 2 lembar halaman saja. Kesulitanku memahaminya karena penulis seperti membuat alurnya muter-muter disitu saja dengan bahasa yang juga butuh untuk dipahami lebih lanjut.

8. Rumah Kremasi

"Jadi, bagaimana cara terbaik yang kau pilih untuk mati?". Sebuah kutipan pembuka yang menceritakan si tokoh "Aku" saat gabung dengan sebuah grup diskusi bernama Rumah Kremasi. Para anggotanya diminta untuk menceritakan dengan kematian yang bagaimanakah yang mereka inginkan. Si tokoh "Aku" menginginkan kematian dengan api. Dia tidak mau mati karena gantung diri, atau minum pil, atau dengan cara kematian yang lainnya. Lalu, apakah alasannya si tokoh "Aku" ini menginginkan kematian dengan api?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Bagiku, sendirian adalah sesuatu yang tidak ada positif-positifnya. Sendirian ya sendiri. Sepi, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang mendengar teriakanmu, tangismu. Bahkan, mungkin tidak ada yang menemukanmu saat mati. Seperti kucing peliharaan" --- [Hal.86]

Cerpen ke delapan ini, menurutku sangat menarik sekali. Apalagi dengan kalimat pertanyaan yang membuka cerpen ini, membuatku penasaran dengan inti dari cerpennya. Aku berhasil menangkap maksud dari si penulis. Ada kepuasan dan kesan tersendiri ketika membaca cerpen ini dari awal hingga akhir.

9. Seperti B, Tak Ada B

Bercerita tentang dimana tidak diperkenankan muncul makian yang mengandung huruf B. Karena si empunya huruf B, merasa tidak adil jika para manusia menyebut-nyebut mereka dengan kasar. Mereka tidak terima ketika para manusia menggunakan huruf B untuk teriak-teriak dan memami-maki dengan kasar. Penasaran kan dengan si B ini siapa?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Jadi, makilah manusia dengan makian manusia. Jangan ajak-ajak B apalagi makhluk lain-lain. Manusia memang seperti B, tapi jangan sekali-kali pakai kata B kalau dianggap B saja marih marah." ---- [Hal. 104]

Cerpen kesembilan ini, entah kenapa menjadi cerpen yang menyegarkan bagiku dari sekian cerpen yang aku baca dalam kumcer ini. Pertentangan antara si huruf B yang disebut-sebut ketika si manusia marah membuatku tertarik untuk mengikutinya. Aku suka dengan maksud si penulis dalam menceritakan si huruf B ini, dengan gaya bahasanya yang kesannya memang tinggi, tetapi masih tetap bisa dipahami.

10. Amy

Bercerita tentang si tokoh "Aku" bertemu dengan seorang gadis buta penikmat senja di danau yang tak bernama. Mula-mula si tokoh "Aku" diam-diam memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Tokoh "Aku" yang suka membuat sketsa, mengabadikan si gadis dalam sketsanya. Tokoh "Aku" memberanikan diri untuk mendekatinya. Lalu, bagaimana akhir kisahnya?

Kutipan menarik dari cerpen ini :

"Memang, bagi Amy, senja bukan perihal warna-warna. Senja hitam putih seperti itu pun tetap bisa menghangatkannya. Meski ia tak berwarna, meski ia hanya bisa dinikmati oleh mata seorang gadis buta." --- [Hal. 120]

Cerpen ke sepuluh ini, benar-benar pas untuk menutup kumcer ini. Benar-benar manis dan lembut. Kisah yang sederhana, tidak neko-neko namun meninggalkan kesan yang menenangkan bagiku. Aku terinspirasi sekali dengan sosok Amy.

Info tentang cerpen ini : pernah dimuat dalam Antologi Cerpen "Serapium Punya Cerita", rilis Juli 2014.

Review :

Seperti yang dikutip dalam blurb kumcer ini, adalah sekumpulan cerita pendek pilihan karya kak Ayu Welirang yang dikumpulkan dari berbagai media.

Menyuguhkan 10 cerpen dengan tema yang berbeda-beda, menjadikannya tidak bosan untuk membacanya. Namun tidak lain dan tidak bukan, pembaca paling harus bersedia untuk menerka-nerka makna dan maksud si penulis dalam setiap cerpennya.

Setelah pembahasan 10 cerpen dalam buku ini, aku menyukai 3 cerpen yang berjudul :

1. Jika Masih Ada Kedai yang Buka
2. Rumah Kremasi
3. Amy

Alasanku menyukai ketiga cerpen itu adalah karena ketika aku membacanya, aku enjoy sekali. Pemaparan si penulis dalam mengembangkan ceritanya tidak kemana-mana dan maknanya pun tersampaikan dengan baik ke pembaca. Bahasa yang digunakan pun meskipun asing bagiku, aku masih bisa memahaminya.

Kelebihan kumcer ini adalah gaya bahasa yang digunakan si penulis dan covernya yang cantik tetap meninggalkan kesan horornya.



Lalu, cerpen manakah yang membuat kalian penasaran?

Review Rumah Kremasi selesai!
Sampai ketemu di review selanjutnya yah Bookreaders😇

See you🙋


1 komentar:

Review Rumah Kremasi - Ayu Welirang

Haiii Bookreaders🙌 Kali ini aku bawa kumpulan cerpen nih. Ada yang suka dengan cerpen? Kumcer yang aku bawa ini dengan judul Rumah...